Minggu, 11 Desember 2011

Desa di Tengah Hutan [CERPEN]

Hoaammm... Renda mulai terbangun dari tidurnya. "Ternyata cuma mimpi." ucapnya dalam hati.
Renda, Yogi, Herman, dan Ibad, sudah 3 hari ini mereka tersesat di hutan gunung Weling. Tadi, Renda bermimpi bahwa ia sudah berada di rumah dan hendak berangkat ke sekolah.

"Yogi, Herman, Ibad. Ayo bangun, sekarang sudah pagi."
"Sudah pagi ya?" ucap Yogi sembari mengusap matanya.
"Ayo kita sarapan, kemudian melanjutkan kembali perjalanan." ucap Renda sambil membangunkan Yogi yang masih memiliki setengah nyawa.

Mereka pun bergegas bangun dari tidurnya untuk sarapan. Selang beberapa menit kemudian, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

"Dik, sekarang kita akan kemana lagi? Sudah 3 hari ini kita mencari jalan pulang, tapi tetap saja kita tidak menemukannya." Ucap Ibad.
"Kita akan pergi ke puncak gunung, agar kita bisa melihat letak desa terdekat." Ucap Renda sambil menunjuk ke arah puncak gunung.

Matahari sudah berada di atas kepala, tinggal beberapa langkah lagi agar mereka sampai di puncak gunung. Ekspresi di wajah mereka sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, terutama untuk Herman. Diantara mereka berempat, Herman-lah yang merangkul tas paling besar. Di dalam tas tersebut berisi tenda dan peralatan masak.

"Man, kelihatannya kau sudah tampak lelah. Bagaimana kalau kita bertukar tas?" ucap Ibad yang merasa kasihan terhadap Herman.
"Dasar kau ini, saat sudah dekat ke puncak baru menawarkan bertukar tas. Tidak usahlah, nanti kalau kau pingsan kita juga yang akan repot." ucap Herman dengan nada menyindir.
"Ya sudahlah. Jika tahu begini, seharusnya aku tidak usah menunjukkan kebaikkanku kepadamu."
"Hei, aku kan hanya bercanda. Kenapa kau malah menanggapinya dengan serius?"
"Ya ya, aku tahu itu."
"Hahaha." tawa Ibad memecah ketegangan tersebut.

Melihat Ibad tertawa, mereka bertiga pun ikut-ikutan tertawa. Keheningan hutan mulai terisi dengan tawa mereka dan rasa lelah yang tadi sempat hinggap seolah-olah menghilang begitu saja.

Tanpa terasa, kini mereka sampai di puncak gunung. Segera mereka membagi tugas untuk berpencar mencari letak desa terdekat.

"Teman-teman! Cepat kemari!" teriak Ibad.

Mendengar teriakan Ibad, sontak mereka bergegas langsung berlari menuju ke arahnya.

"Hah... Hah... Hah... Ada apa Bad?" ucap Renda sambil terengah-engah.
"Kau ini membuat kami kaget, tahu." Yogi menambahi perkataan Renda.
"Coba kalian lihat di sebelah sana, ada sebuah desa!" ucap Ibad.
"Benar apa kata Ibad, disana ada sebuah desa!" ucap Herman.
"Jadi?" tanya Ibad.

Mereka bertiga masih tampak belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan sekarang?" Ibad mempertegas pertanyaannya.
"Oh ya, maaf. Kalau begitu mari kita menuju ke desa tersebut." jawab Renda.

Mereka mulai berangkat menuju ke desa tersebut dengan wajah gembira. Harapan yang hampir memudar setelah 3 hari tersesat, kini kembali lagi. Langkah demi langkah, mereka lakukan dengan penuh semangat.

Selang 2 jam kemudian, mereka tiba di sebuah pohon beringin besar.
"Aku sangat yakin kalau letak desa tersebut di sekitar sini. Tetapi, sekarang kemana hilangnya desa tersebut?" ucap Ibad tampak keheranan.
"Aku juga sependapat dengan apa yang dikatakan Ibad." Yogi menambahi perkataan Ibad.
"Kau ini, bisanya cuma ikut-ikutan perkataan orang lain saja." sindir Herman kepada Yogi.
"Tidak, kali ini aku serius. Aku benar-benar yakin kalau desa tersebut berada di sekitar sini."
"Kalau begitu, mari kita berpencar. 15 menit kemudian, kita kembali berkumpul di sini." ucap Renda memberikan sebuah rencana.
"Baiklah, aku setuju denganmu. Kau memang bisa diandalkan Ren." ucap Herman.

Renda kemudian membagi arah untuk mencari desa tersebut oleh masing-masing dari mereka. Selesai memberikan instruksi, Renda dan kawan-kawannya mulai berpencar.

20 menit sudah berlalu sejak mereka mulai berpencar. Renda, Herman, dan Yogi sudah berkumpul di pohon beringin. Tetapi, Ibad belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Dalam situasi seperti ini, 5 menit keterlambatan merupakan waktu yang cukup lama. Rasa khawatir mulai hinggap pada diri mereka bertiga.

"Apa kita perlu mencari Ibad? Aku takut apabila terjadi sesuatu pada Ibad." ucap Yogi merasa khawatir akan keadaan Ibad.
"Jangan, kita coba tunggu 5 menit lagi. Apabila Ibad belum juga datang, kita baru akan mencarinya. Semoga saja tidak terjadi apa-apa padanya." jawab Renda.

5 menit telah berlalu dan Ibad belum juga muncul dihadapan mereka bertiga.

"Sudah 5 menit kita menunggu, tetapi Ibad belum muncul juga. Baiklah kalau begitu, Man, Gi, ayo kita cari Ibad sekarang!" Ajak Renda kepada Herman dan Yogi.
"Perkataan itulah yang aku nanti-nanti dari tadi." jawab Herman.

"Teman-teman!" teriak Ibad memanggil teman-temannya.

Mendengar suara Ibad, mereka bertiga segera menoleh ke arah suara tersebut.

"Ibad? Darimana saja kau, kami khawatir dengan keadaanmu." ucap Yogi.
"Syukurlah." tambah Renda.
"Tenang saja, aku baik-baik saja. Perkenalkan ini pak Wagito, warga desa Jetingan. Aku bertemu dengannya saat melakukan pencarian tadi dan ia sedang mencari rumput untuk ternaknya. Maaf aku lama, karena tadi sempat berbincang dengan pak Wagito dan menceritakan keadaan kita." Ibad menjelaskan alasan keterlambatannya.
"Sepertinya kalian belum mengenal daerah sini, ya?" pak Wagito mulai angkat bicara.
"Iya, pak. Kami berasal dari luar kota. Awalnya, kami kesini hendak berkemah di gunung Weling ini. Tetapi, saat akan melakukan perjalanan pulang, tiba-tiba kami kehilangan arah dan akhirnya tersesat." jawab Renda menjelaskan keadaan mereka.
"Ya, saya sudah tahu hal tersebut dari dek Ibad. Kalau begitu, mari kita saya antar ke desa Jetingan. Jaraknya sekitar 10 km dari sini. Masih kuat untuk berjalan, kan?" ajak pak Wagito.
"10 km? Bukankah letak desa tersebut berada di sekitar sini?" tanya Yogi yang merasa heran dengan pernyataan pak Wagito.
"Mengenai hal tersebut, nanti akan saya ceritakan dalam perjalanan pulang. Mari kita jalan, hari sudah mulai sore."

Mereka dan pak Wagito mulai berjalan menuju ke desa Jetingan. Seperti yang dikatakan pak Wagito tadi bahwa dalam perjalanan pulang, pak Wagito akan menceritakan desa di tengah hutan tersebut.

"Seperti yang saya katakan tadi, sembari berjalan menuju desa, bapak akan menceritakan desa di tengah hutan tersebut kepada kalian. Sebenarnya, di hutan tersebut tidak ada sebuah desa." tutur pak Wagito.
"Tidak ada desa? Tetapi, aku sangat yakin bahwa tadi saya melihat sebuah desa." ucap Yogi yang masih ragu akan pernyataan pak Wagito.
"Benar, di sana memang tidak terdapat sebuah desa. Pohon beringin yang kalian lihat tadi, merupakan pohon yang dikeramatkan oleh warga desa kami."
"Gleg..." Yogi menelan ludah, kaget mendengar hal tersebut.
"Pohon tersebut diyakini merupakan tempat para warga desa yang sudah meninggal. Karena, dahulu daerah di sekitar pohon beringin tersebut merupakan area kuburan. Tetapi, kini sudah tidak dipakai lagi karena kami merasa tempat tersebut terlalu jauh. Juga, jalan yang harus dilalui terlalu sulit apabila kami harus membawa tandu jenazah. Tetapi, kalian tidak usah khawatir. Karena, penunggu pohon beringin tersebut dapat dikatakan baik hati. Mereka selalu membantu apabila ada orang yang terkena musibah di hutan gunung tersebut. Seperti contohnya, kalian ini. Para penunggu pohon tersebut tadi membantu kalian untuk menemukan jalan pulang dengan memperlihatkan bahwa pohon beringin tersebut merupakan sebuah desa. Oh, kita sudah hampir sampai di desa bapak. Nanti kalian dapat menginap di rumah bapak terlebih dahulu. Baru, besoknya kalian dapat melanjutkan perjalanan pulang."
"Kami sangat berterima kasih atas bantuan bapak." ucap Renda.
"Hei, Gi. Kau ketakutan ya?" sindir Herman kepada Yogi.
"Apa kau bilang? Mana mungkin aku takut dengan hal seperti itu." bantah Yogi terhadap tuduhan Herman.
"Ada setan! Dibelakangmu!" teriak Herman menakut-nakuti Yogi.
"Mana? Aaaa!!!"
"Hahahaha." tawa Herman, Renda, Ibad, dan pak Wagito melihat tingkah Yogi.

Akhirnya, mereka sampai di desa Jetingan. Malamnya, mereka menginap di rumah pak Wagito. Mereka dijamu dengan sopan oleh keluarga pak Wagito begitu juga oleh warga desa.

Keesokan harinya, mereka berpamitan kepada pak Wagito dan keluarga, serta warga desa. Mimpi Renda yang seolah berada di rumah, kini menjadi kenyataan. Untuk seterusnya, mereka berempat akan terus mengingat kisah perjalanan mereka di gunung Weling tersebut.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar